Minggu, 26 Mei 2013

Ruang Lingkup Penelitian Kuantitatif


Ruang Lingkup Penelitian Kuantitatif
a.       Lahirnya pendekatan kuantitatif
Pendekatan kuantitatif lahir dari paradigma positivisme. Sedangkan pokok-pokok pikiran dari paradigma positivisme adalah sebagai berikut (Summary dari Pengantar Penelitian Kuantitatif oleh Yulius Slamet, hal 7-8):
1.      Positivisme percaya bahwa metode dan prosedur ilmu kealaman cocok untuk ilmu-ilmu sosial. (metodologichal naturalism)
2.      Positivisme berkeyakinan bahwa hanya gejala-gejala yang dapat diamati, dalam arti dengan indera, dapat dianggap sahih sebagai bahan pengetahuan. Hal ini berarti bahwa gejala yang tidak dapat diobservasi baik langsung melalui pengalaman maupun penyelidikan atau secara tidak langsung dengan bantuan-bantuan alat-alat tidak mempunyai tempat di dalam ilmu pengetahuan. (phenomenalism atau empirisicm)
3.      Positivisme menyarankan bahwa pengetahuan ilmiah bermuara pada akumulasi pembuktian fakta-fakta. Fakta ini memberikan umpan balik pada teori. Maka teori menyatakan dan mencerminkan penemuan yang terakumulasi dari penelitian empiris.
4.      Teori-teori keilmuan dipandang oleh kaum positivist sebagai sesuatu yang memberikan pelana bagi penelitian empiris dalam arti bahwa hipotesis ditarik dari teori-teori keilmuan itu, yang kemudian diuji dalam kenyataan empiris. Hal ini dengan sendirinya merupakan pernyataan yang tidak langsung bahwa ilmu itu deductive, dalam arti bahwa ilmu itu menarik proposisi-proposisi khusus dari pernyataan-pernyataan umum tentang realitas.
5.      Positivisme memandang pengertian nilai (values) sebagai berikut: pertama, nilai akan melemahkan objektivitas keilmuan, dan dengan demikian merendahkan kesahihan pengetahuan. Kedua, harus ada pembedaan yang tajam dan jelas antara persoalan keilmuan dengan pernyataan (statement) dan hal-hal yang normatif. Hal-hal yang normatif tidak dapat dibuktikan, karenanya tidak termasuk ilmu pengetahuan.

b.      Ciri-Ciri Penelitian Kuantitatif
·         Kausalitas
Penelitian kuantitatif sering dilakukan dengan menetapkan adanya hubungan kausal antara konsep-konsep. Babbie misalnya menyatakan sebagai berikut: salah satu tujuan utama dari ilmuwan, apakah ilmuwan social atau yang lainnya, ialah menjelaskan mengapa hal-hal itu demikian adanya. Secara tipikal, kita dengan menspesifikasi sebab-sebab mengapa hal-hal itu demikian: sesuatu disebabkan oleh sesuatu yang lainnya. 
·         Generalisasi
Peneliti kuantitatif biasanya menaruh perhatian pada ketetapan bahwa hasil penelitiannya pada suatu lokasi tertentu dapat digeneralisasikan pada lokasi yang lebih luas, artinya bahwa kesimpulan yang dia peroleh dari hasil penelitian terhadap orang (sampel) dan wilayah yang terbatas itu dapat ditarik kesimpulan umum yang berlaku bagi suatu populasi yang diwakili oleh sampel itu dan dalam lokasi yang lebih luas. Oleh karena itu persoalan pokok yang dihadapi oleh peneliti kuantitatif ialah persoalan representativitas sampel. Berbagai buku teks menganjurkan bahwa random sampling merupakan gejala yang banyak dipakai oleh para praktisi penelitian untuk memenuhi tujuan ini.
·         Replikasi
Replikasi (penelitian ulang) untuk memantapkan hasil penemuan sering dilakukan dan merupakan cirri ilmu-ilmu kealaman. Menurut Heiseberg: dasar utama untuk meraih keberhasilan ialah kemungkinan mengulangi eksperimen. Kita akhirnya dapat setuju tentang hasil-hasil yang didapatkan karena kita mengetahui bahwa eksperimen dilakukan dalam kondisi yang sama manghasilkan hal yang sama. Beberapa peneliti kuantitatif menyatakan pandangannya bahwa penelitian dapat bebas nilai, karenanya replikasi dapat berlaku sebagai suatu kajian terhadap berbagai ekses.
·         Individualisme
Penelitian cenderung memperlakukan individu sebagai pusat dari penelitian empiris. Dalam penulisan tentang apa yang oleh Bryant disebut sebagai “instrumental positivism” (suatu istilah yang merupakan sinonim dari penelitian kuantitatif tetapi lebih berkaitan dengan tradisi survei), telah tercatat bahwa ada kecenderungan individu menjadi pusat perhatian para peneliti. Kecenderungan ini ditarik dari kenyataan bahwa instrumen survey diberikan kepada individu-individu yang dipandang sebagai obyek yang diskrit di dalam penyelidikan. Jawaban-jawaban (response) dari setiap individu itu dikumpulkan untuk membentuk ukuran-ukuran keseluruhan dari sampel. Satu manifestasi dari kecenderungan individualisme ialah pandangan bahwa aspek-aspek unit sosial dapat dibangun dari agregasi jawaban-jawaban penelitian dari para individu.
(Ringkasan dari Pengantar Penelitian Kuantitatif oleh Yulius Slamet, hal 19-24)

c.       Struktur Logika dari Proses Penelitian Kuantitatif
Tahap Utama                                                                                 Proses Perantara
              Teori                                                                                                 
                                                                                                            Deduksi          
Hipotesis
                                                                                                           Opersional Konsep
                                                                                                            
Pengamatan/ Pengupulan Data
                                                                                                            Pengolahan Data
                                                                                                            
Analisis Data
                                                                                                            Penafsiran

Penemuan Hasil
                                                                                                              Induksi
 

(Diambil dari Pengantar Penelitian Kuantitatif, hal 14)
d.      Perbedaan Pendekatan Kuantitatif dan Kualitatif

PENDEKATAN KUANTITATIF
PENDEKATAN KUALITATIF
Berpijak pada konsep positivistik
Berpijak pada konsep naturalistik
Kenyataan berdimensi tunggal, terbatas, fixed
Kenyataan berdimensi jamak, kesatuan utuh, beruah, terbuka
Peneliti dengan objek terlepas; penelitian dari luar dengan alat pengukuran standar dan objektif
Peneliti dengan objek berinteraksi; peneliti di luar dan di dalam, peneliti sebagai instrumen, menggunakan judgment / subjektivitas
Setting penelitian buatan, lepas dari tempat dan waktu
Setting penelitian alamiah, terkait tempat dan waktu
Analisis statistik
Analisis subjektif, intuitif, rational
Hasil penelitian berupa inferensi, generalisasi, prediksi
Hasil penelitian berupa deskripsi, interpretasi tentatif situasional
(diambil dari kuliah Metode Penelitian Kuantitatif tgl 23 Feb)

e.       Asumsi Paradigma Kuantitatif
·         Asumsi Ontologis, bahwa realita adalah obyektif dan tunggal, terpisah dari peneliti
·         Asumsi Epistemologis, bahwa peneliti bebas dari yang diteliti
·         Asumsi Aksiologis, bahwa penelitian harus bebas nilai dan tidak bias
·         Asumsi Retoris, bahwa penelitian formal, berdasarkan pada seperangkat definisi, bentuk impersonal
·         Asumsi Metodologis, bahwa proses deduktif, ada sebab dan akibat, rancangan statis, kategori-kategori diisolasi sebelum penelitian, naskah bebas, generalisasi mengarah ke prediksi, penjelasan dan pemahaman akurat dan dapat dipercaya melalui kesahihan dan keandalan.
(Diringkas dari Metode Penelitian Sosial oleh Ulber Silallahi)
oleh : Ita Puspitasari 

FEMINISME


Sejarah Feminisme
Feminisme (tokohnya disebut Feminis) adalah sebuah gerakan perempuan yang menuntut emansipasi atau kesamaan dan keadilan hak dengan pria. Feminisme sebagai filsafat dan gerakan berkaitan dengan Era Pencerahan di Eropa yang dipelopori oleh Lady Mary Wortley Montagu dan Marquis de Condorcet. Setelah Revolusi Amerika 1776 dan Revolusi Prancis pada 1792 berkembang pemikiran bahwa posisi perempuan kurang beruntung daripada laki-laki dalam realitas sosialnya. Ketika itu, perempuan, baik dari kalangan atas, menengah ataupun bawah, tidak memiliki hak-hak seperti hak untuk mendapatkan pendidikan, berpolitik, hak atas milik dan pekerjaan. Oleh karena itulah, kedudukan perempuan tidaklah sama dengan laki-laki dihadapan hukum. Pada 1785 perkumpulan masyarakat ilmiah untuk perempuan pertama kali didirikan di Middelburg, sebuah kota di selatan Belanda.
Kata feminisme dicetuskan pertama kali oleh aktivis sosialis utopisCharles Fourier pada tahun 1837. Pergerakan yang berpusat di Eropa ini berpindah ke Amerika dan berkembang pesat sejak publikasi John Stuart Mill, "Perempuan sebagai Subyek" ( The Subjection of Women) pada tahun (1869). Perjuangan mereka menandai kelahiran feminisme Gelombang Pertama.
Pada awalnya gerakan ditujukan untuk mengakhiri masa-masa pemasungan terhadap kebebasan perempuan. Secara umum kaum perempuan (feminin) merasa dirugikan dalam semua bidang dan dinomor duakan oleh kaum laki-laki (maskulin) dalam bidang sosial, pekerjaan, pendidikan, dan politik khususnya - terutama dalam masyarakat yang bersifat patriarki. Dalam masyarakat tradisional yang berorientasi Agraris, kaum laki-laki cenderung ditempatkan di depan, di luar rumah, sementara kaum perempuan di dalam rumah. Situasi ini mulai mengalami perubahan ketika datangnya era Liberalisme di Eropa dan terjadinya Revolusi Perancis di abad ke-XVIII yang merambah ke Amerika Serikat dan ke seluruh dunia.
Adanya fundamentalisme agama yang melakukan opresi terhadap kaum perempuan memperburuk situasi. Di lingkungan agama Kristen terjadi praktek-praktek dan kotbah-kotbah yang menunjang hal ini ditilik dari banyaknya gereja menolak adanya pendeta perempuan, dan beberapa jabatan "tua" hanya dapat dijabat oleh pria. Pergerakan di Eropa untuk "menaikkan derajat kaum perempuan" disusul oleh Amerika Serikat saat terjadi revolusi sosial dan politik.Di tahun 1792 Mary Wollstonecraft membuat karya tulis berjudul "Mempertahankan Hak-hak Wanita" (Vindication of the Right of Woman) yang berisi prinsip-prinsip feminisme dasar yang digunakan dikemudian hari.
Pada tahun-tahun 1830-1840 sejalan terhadap pemberantasan praktek perbudakan, hak-hak kaum prempuan mulai diperhatikan dengan adanya perbaikan dalam jam kerja dan gaji perempuan , diberi kesempatan ikut dalam pendidikan, serta hak pilih. Menjelang abad 19 feminisme lahir menjadi gerakan yang cukup mendapatkan perhatian dari para perempuan kulit putih di Eropa. Perempuan di negara-negara penjajah Eropa memperjuangkan apa yang mereka sebut sebagai keterikatan (perempuan) universal (universal sisterhood).
Pada tahun 1960 munculnya negara-negara baru, menjadi awal bagi perempuan mendapatkan hak pilih dan selanjutnya ikut ranah politik kenegaraan dengan diikutsertakannya perempuan dalam hak suara parlemen. Gelombang kedua ini dipelopori para feminis Perancis seperti Helene Cixous (seorang Yahudi kelahiran Aljazair yang kemudian menetap di Perancis) dan Julia Kristeva (seorang Bulgaria yang kemudian menetap di Perancis) bersamaan dengan kelahiran dekonstruksionisDerrida. Dalam the Laugh of the Medusa, Cixous mengkritik logosentrisme yang banyak didominasi oleh nilai-nilai maskulin.
Banyak feminis-individualis kulit putih, meskipun tidak semua, mengarahkan obyek penelitiannya pada perempuan-perempuan dunia ketiga seperti AfrikaAsia dan Amerika Selatan.

Perkembangan di Amerika Serikat
Gelombang feminisme di Amerika Serikat mulai lebih keras bergaung pada era perubahan dengan terbitnya buku The Feminine Mystique yang ditulis oleh Betty Friedan di tahun 1963. Buku ini ternyata berdampak luas, lebih-lebih setelah Betty Friedan membentuk organisasi wanita bernama National Organization for Woman (NOW) di tahun 1966 gemanya kemudian merambat ke segala bidang kehidupan. Dalam bidang perundangan, tulisan Betty Fredman berhasil mendorong dikeluarkannya Equal Pay Right (1963) sehingga kaum perempuan bisa menikmati kondisi kerja yang lebih baik dan memperoleh gaji sama dengan laki-laki untuk pekerjaan yang sama, dan Equal Right Act (1964) dimana kaum perempuan mempunyai hak pilih secara penuh dalam segala bidang
Gerakan feminisme yang mendapatkan momentum sejarah pada 1960-an menunjukan bahwa sistem sosial masyarakat modern dimana memiliki struktur yang pincang akibat budaya patriarkal yang sangat kental. Marginalisasi peran perempuan dalam berbagai aspek kehidupan, khususnya ekonomi dan politik, merupakan bukti konkret yang diberikan kaum feminis.
Gerakan perempuan atau feminisme berjalan terus, sekalipun sudah ada perbaikan-perbaikan, kemajuan yang dicapai gerakan ini terlihat banyak mengalami halangan. Di tahun 1967 dibentuklahStudent for a Democratic Society (SDS) yang mengadakan konvensi nasional di Ann Arbor kemudian dilanjutkan di Chicago pada tahun yang sama, dari sinilah mulai muncul kelompok "feminisme radikal" dengan membentuk Women´s Liberation Workshop yang lebih dikenal dengan singkatan "Women´s Lib". Women´s Lib mengamati bahwa peran kaum perempuan dalam hubungannya dengan kaum laki-laki dalam masyarakat kapitalis terutama Amerika Serikat tidak lebih seperti hubungan yang dijajah dan penjajah. Di tahun 1968 kelompok ini secara terbuka memprotes diadakannya "Miss America Pegeant" di Atlantic City yang mereka anggap sebagai "pelecehan terhadap kaum wanita dan komersialisasi tubuh perempuan". Gema ´pembebasan kaum perempuan´ ini kemudian mendapat sambutan di mana-mana di seluruh dunia..
Pada 1975, "Gender, development, dan equality" sudah dicanangkan sejak Konferensi Perempuan Sedunia Pertama di Mexico City tahun 1975. Hasil penelitian kaum feminis sosialis telah membuka wawasan jender untuk dipertimbangkan dalam pembangunan bangsa. Sejak itu, arus pengutamaan jender atau gender mainstreaming melanda dunia.
Memasuki era 1990-an, kritik feminisme masuk dalam institusi sains yang merupakan salah satu struktur penting dalam masyarakat modern. Termarginalisasinya peran perempuan dalam institusi sains dianggap sebagai dampak dari karakteristik patriarkal yang menempel erat dalam institusi sains. Tetapi, kritik kaum feminis terhadap institusi sains tidak berhenti pada masalah termarginalisasinya peran perempuan. Kaum feminis telah berani masuk dalam wilayah epistemologi sains untuk membongkar ideologi sains yang sangat patriarkal. Dalam kacamata eko-feminisme, sains modern merupakan representasi kaum laki-laki yang dipenuhi nafsu eksploitasi terhadap alam. Alam merupakan representasi dari kaum perempuan yang lemah, pasif, dan tak berdaya. Dengan relasi patriarkal demikian, sains modern merupakan refleksi dari sifat maskulinitas dalam memproduksi pengetahuan yang cenderung eksploitatif dan destruktif.
Berangkat dari kritik tersebut, tokoh feminis seperti Hilary RoseEvelyn Fox KellerSandra Harding, dan Donna Haraway menawarkan suatu kemungkinan terbentuknya genre sains yang berlandas pada nilai-nilai perempuan yang antieksploitasi dan bersifat egaliter. Gagasan itu mereka sebut sebagai sains feminis (feminist science).

Aliran-aliran Feminisme
ü Feminisme liberal
Feminisme liberal muncul sebagai reaksi terhadap teori pembangunan liberal. Misalnya saja kaum liberal menganalisis mengapa posisi kaum perempuan tertinggal dalam proses pembangunan, disebabkan oleh faktor kaum perempuan sendiri yang tidak sanggup untuk bersaing dan itu kemudian dicari penyebabnya pada sifat tradisional yang ada pada diri mereka. Bagi kaum liberal, sesungguhnya pembangunan dan modenisasi, teknologi, maupun sistem ekonomi memberi peluang yang luas bagi semuannya, tetapi hanya yang modern, kreatif, rasional dan efisienlah yang akan mampu memanfaatkan kesempatan itu. Aliran ini berpendapat bahwa perbedaan antara kaum perempuan dan kaum lelaki yang akan diserap dalam proses ini dianggap sebagai suatu kesalahan dalam difusi, bukan dianggap kesalahan model teori itu sendiri.
Asumsi dasar feminisme liberal berakar dari pandangan bahwa kebebasan (freedom) dan kesamaan berakar pada rasionalitas dan emisahan antara dunia privat dan publik. Kerangka kerja feminis liberal dalam memperjuangkan persoalan masyarakat tertuju pada “kesempatan yang sama dan hak yang sama” bagi setiap individu, termasuk didalamnya kesempatan dan hak kaum perempuan, karena perempuan juga makhluk rasional. Yang disebut sebagai Feminisme Liberal ialah pandangan untuk menempatkan perempuan yang memiliki kebebasan secara penuh dan individual. Aliran ini menyatakan bahwa kebebasan dan kesamaan berakar pada rasionalitas dan pemisahan antara dunia privat dan publik. Setiap manusia (demikian menurut mereka) punya kapasitas untuk berpikir dan bertindak secara rasional, begitu pula pada perempuan. Akar ketertindasan dan keterbelakngan pada perempuan ialah karena disebabkan oleh kesalahan perempuan itu sendiri. Perempuan harus mempersiapkan diri agar mereka bisa bersaing di dunia dalam kerangka "persaingan bebas" dan punya kedudukan setara dengan lelaki.
Feminis Liberal memiliki pandangan mengenai negara sebagai penguasa yang tidak memihak antara kepentingan kelompok yang berbeda yang berasl dari teori pluralisme negara. Mereka menyadari bahwa negara itu didominasi oleh kaum Pria, yang terlefleksikan menjadi kepentingan yang bersifat “maskulin”, tetapi mereka juga menganggap bahwa negara dapat didominasi kuat oleh kepentiangan dan pengaruh kaum pria tadi. Singkatnya, negara adalah cerminan dari kelompok kepentingan yang memeng memiliki kendali atas negara tersebut. Untuk kebanyakan kaum Liberal Feminis, perempuan cendrung berada “didalam” negara hanya sebatas warga negara bukannya sebagai pembuat kebijakan. Sehingga dalam hal ini ada ketidaksetaraan perempuan dalam politik atau bernegara. Pun dalam perkembangan berikutnya, pandangan dari kaum Feminist Liberal mengenai “kesetaraan” setidaknya memiliki pengaruhnya tersendiri terhadap perkembangan “pengaruh dan kesetaraan perempuan untuk melakukan kegiatan politik seperti membuat kebijakan di sebuah negara”.
Tokoh aliran ini adalah Naomi Wolf, sebagai "Feminisme Kekuatan" yang merupakan solusi. Kini perempuan telah mempunyai kekuatan dari segi pendidikan dan pendapatan, dan perempuan harus terus menuntut persamaan haknya serta saatnya kini perempuan bebas berkehendak tanpa tergantung pada lelaki.
Feminisme liberal mengusahakan untuk menyadarkan wanita bahwa mereka adalah golongan tertindas. Pekerjaan yang dilakukan wanita di sektor domestik dikampanyekan sebagai hal yang tidak produktif dan menempatkab wanita pada posisi sub-ordinat. Budaya masyarakat Amerika yang materialistis, mengukur segala sesuatu dari materi, dan individualis sangat mendukung keberhasilan feminisme. Wanita-wanita tergiring keluar rumah, berkarier dengan bebas dan tidak tergantung lagi pada pria.
Akar teori ini bertumpu pada kebebasan dan kesetaraaan rasionalitas. Perempuan adalah makhluk rasional, kemampuannya sama dengan laki-laki, sehingga harus diberi hak yang sama juga dengan laki-laki. Permasalahannya terletak pada produk kebijakan negara yang bias gender. Oleh karena itu, pada abad 18 sering muncul tuntutan agar prempuan mendapat pendidikan yang sama, di abad 19 banyak upaya memperjuangkan kesempatan hak sipil dan ekonomi bagi perempuan, dan di abad 20 organisasi-organisasi perempuan mulai dibentuk untuk menentang diskriminasi seksual di bidang politik, sosial, ekonomi, maupun personal. Dalam konteks Indonesia, reformasi hukum yang berprerspektif keadilan melalui desakan 30% kuota bagi perempuan dalam parlemen adalah kontribusi dari pengalaman feminis liberal.

ü Feminisme radikal
Salah satu feminis radikal yang pertama, Kate Millett (1934 – 1977) berpendapat bahwa patriaki dibawa oleh kontrol gagasan dan kebudayaan oleh laki-laki. Dalam tulisan feminis radikal yang lain, tiga macam universal dikemukakan : pengasuhan ibu biologis, keluarga berbasis perkawinan dan heteroseksual. Selanjutnya, dalam teori radikal awal, sebgai contoh Shulamith Firestone (1945-) argumentasinya adalah bahwa patriarki didasarkan pada faktor biologi bahwa hanya perempuan yang mengandung dan melahirkan. Pendekatan ini mengklaim bahwa hanya secara teknologi telah dimungkinkan pembuahan hingga mengandung diluar rahim barulah perempuan memperoleh kebebasan. Kalau keadaaan ini telah tercapai maka perbedaan gender menjadi tidak relevan dan secara biologis perempuan terperangkap dalam peranan ibu dalam keluarga dengan sendirinya akan hilang ( Firestone 1971).
Trend ini muncul sejak pertengahan tahun 1970-an di mana aliran ini menawarkan ideologi "perjuangan separatisme perempuan". Pada sejarahnya, aliran ini muncul sebagai reaksi atas kultur seksisme atau dominasi sosial berdasar jenis kelamin di Barat pada tahun 1960-an, utamanya melawan kekerasan seksual dan industri pornografi. Pemahaman penindasan laki-laki terhadap perempuan adalah satu fakta dalam sistem masyarakat yang sekarang ada. Dan gerakan ini adalah sesuai namanya yang "radikal".
Feminis Liberal memilki pandangan mengenai negara sebagai penguasa yang tidak memihak antara kepentingan kelompok yang berbeda yang berasal dari teori pluralisme negara. Mereka menyadari bahwa negara itu didominasi oleh kaum Pria, yang terlefleksikan menjadi kepentingan yang bersifat “maskulin”, tetapi mereka juga menganggap bahwa negara dapat didominasi kuat oleh kepentiangan dan pengaruh kaum pria tadi. Singkatnya, negara adalah cerminan dari kelompok kepentingan yang memeng memiliki kendali atas negara tersebut. Untuk kebanyakan kaum Liberal Feminis, perempuan cendrung berada “didalam” negara hanya sebatas warga negara bukannya sebagai pembuat kebijakan. Sehingga dalam hal ini ada ketidaksetaraan perempuan dalam politik atau bernegara. Pun dalam perkembangan berikutnya, pandangan dari kaum Feminist Liberal mengenai “kesetaraan” setidaknya memiliki pengaruhnya tersendiri terhadap perkembangan “pengaruh dan kesetaraan perempuan untuk melakukan kegiatan politik seperti membuat kebijakan di sebuah negara”.
Aliran ini bertumpu pada pandangan bahwa penindasan terhadap perempuan terjadi akibat sistem patriarki. Tubuh perempuan merupakan objek utama penindasan oleh kekuasaan laki-laki. Oleh karena itu, feminisme radikal mempermasalahkan antara lain tubuh serta hak-hak reproduksi, seksualitas (termasuk lesbianisme), seksisme, relasi kuasa perempuan dan laki-laki, dan dikotomi privat-publik. "The personal is political" menjadi gagasan baru yang mampu menjangkau permasalahan perempuan sampai ranah privat, masalah yang dianggap paling tabu untuk diangkat ke permukaan. Informasi atau pandangan buruk (black propaganda) banyak ditujukan kepada feminis radikal. Padahal, karena pengalamannya membongkar persoalan-persoalan privat inilah Indonesia saat ini memiliki Undang Undang RI no. 23 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (UU PKDRT).
Feminisme radikal berusaha menjelaskan bahwa penindasan terhadap perempuan itu universal, dan untuk mendukung penjelasan itu mereka mengusung konsep patriarki. Patriarki berarti kekuasaan laki-laki atas perempuan; bagi feminis radikal, bukan sistem ekonomi yang menindas perempuan, melainkan laki-laki yang menindas perempuan.
ü Feminisme post modern
Ide Posmo - menurut anggapan mereka - ialah ide yang anti absolut dan anti otoritas, gagalnya modernitas dan pemilahan secara berbeda-beda tiap fenomena sosial karena penentangannya pada penguniversalan pengetahuan ilmiah dan sejarah. Mereka berpendapat bahwa gender tidak bermakna identitas atau struktur sosial.
ü Feminisme anarkis
Feminisme Anarkisme lebih bersifat sebagai suatu paham politik yang mencita-citakan masyarakat sosialis dan menganggap negara dan sistem patriaki-dominasi lelaki adalah sumber permasalahan yang sesegera mungkin harus dihancurkan.

ü Feminisme Marxis
Pendirian dasar penganut marxisme adalah bahwa women question harus diletakkan sebagai bagian dari kritik terhadap kapitalisme, terutama pada sistem mode produksi. Aliran ini memandang masalah perempuan dalam kerangka kritik kapitalisme. Asumsinya sumber penindasan perempuan berasal dari eksploitasi kelas dan cara produksi. Teori Friedrich Engels dikembangkan menjadi landasan aliran ini—status perempuan jatuh karena adanya konsep kekayaaan pribadi (private property). Kegiatan produksi yang semula bertujuan untuk memenuhi kebutuhan sendri berubah menjadi keperluan pertukaran (exchange). Laki-laki mengontrol produksi untuk exchange dan sebagai konsekuensinya mereka mendominasi hubungan sosial. Sedangkan perempuan direduksi menjadi bagian dari property. Sistem produksi yang berorientasi pada keuntungan mengakibatkan terbentuknya kelas dalam masyarakat—borjuis dan proletar. Jika kapitalisme tumbang maka struktur masyarakat dapat diperbaiki dan penindasan terhadap perempuan dihapus.
Kaum Feminis Marxis, menganggap bahwa negara bersifat kapitalis yakni menganggap bahwa negara bukan hanya sekadar institusi tetapi juga perwujudan dari interaksi atau hubungan sosial. Kaum Marxis berpendapat bahwa negara memiliki kemampuan untuk memelihara kesejahteraan, namun disisi lain, negara bersifat kapitalisme yang menggunakan sistem perbudakan kaum wanita sebagai pekerja.
Dalam hubungan ekonomi dan karakteristik gagasan dari mode kapitalisme produksi yang kita seharusnya mencari struktur ketidaksetaraan yang secara tidak adil menghambat kehidupan perempuan, kebalikan darikehidupan laki-laki yang serba menikmati keuntungan dan kelebihan. Solusi bagi masalah penindasan terhadap kaum perempuan itu terletak pada penghancuran kapitalisme. Ada 2 macam pendekatan feminsme Marxis yang satu lebih ekonomistik dari pada yang lain. Versi femins-Marxis menekankan pada posisi ekonomi perempuan dalam masyarakat kapitalisme menegaskan bahwa subordinasi paling baik dijelaskan dengan memahami ketidak beruntungan ekonomi yang mereka alami sebagai akibat dari kondisi kapitalisme. Argumen tersebut dikemukaan oleh sebagian ahli yang terlibat dalam perdebatan tentang persepekif ini.

ü Feminisme sosialis
Feminisme sosialis dianggap sebagai kelompok feminis yang mengembangkan pemikiran teori feminisme yang paling dinamis ditahun 1970-an. Bagi feminis sosialis, ada konflik terselubung dan terus menerus antara “kebutuhan dasar feminis” disatu pihak dan “kebutuhan untuk menjaga integritas materialisme dari Marxisme” dipihak lain, sehingga analisis made of productions. Feminisme sosialis sangat skeptis terhadap asumsi golongan Marxis umumnya.
Sebuah faham yang berpendapat "Tak Ada Sosialisme tanpa Pembebasan Perempuan. Tak Ada Pembebasan Perempuan tanpa Sosialisme". Feminisme sosialis berjuang untuk menghapuskan sistem pemilikan. Lembaga perkawinan yang melegalisir pemilikan pria atas harta dan pemilikan suami atas istri dihapuskan seperti ide Marx yang menginginkan suatu masyarakat tanpa kelas, tanpa pembedaan gender.
Feminisme sosialis muncul sebagai kritik terhadap feminisme Marxis. Aliran ini mengatakan bahwa patriarki sudah muncul sebelum kapitalisme dan tetap tidak akan berubah jika kapitalisme runtuh. Kritik kapitalisme harus disertai dengan kritik dominasi atas perempuan. Feminisme sosialis menggunakan analisis kelas dan gender untuk memahami penindasan perempuan. Ia sepaham dengan feminisme marxis bahwa kapitalisme merupakan sumber penindasan perempuan. Akan tetapi, aliran feminis sosialis ini juga setuju dengan feminisme radikal yang Bagi feminis sosialis, ketidak adilan terhadap kaum perempuan muncul bukan karena perbedaan biologis antara lelaki dan kaum perempuan, tetapi lebih karena penilaian dan anggapan terhadap perbedaan itu, suatu analisis yang menjadi dasar analisis gender. Dengan begitu, pemikiran feminisme sosialis mengombinasikan teori marxis, dengan fakta universal subordinasi perempuan, sebagai landasan untuk studi perbandingan dan praxis baru. Bagi mereka, penyebab penindasan kaum perempuan bukan melulu karena kegiatan produksi atau reproduksi, melainkan juga konstruksi sosial dari kedua kegiatan tersebut. Revolusi sosial bagi mereka sekadar menjadi prakondisi bagi revolusi feminis.
Persepektif yang ada seringkali adalah konflik antara memilih satu dari yang lain dalam rangka  membuat keputusan penting tentang bagaimana menstrukturkan kebijakan pada saat ini, seperti : apakah perlu memiliki proyek pembangunan “khusus kaum perempuan” ataukah harus “integratif” atau apakah harus yang menerima bantuan asing itu lelaki ataukaah perempuan, ataukah anak sebagai individu. Dalam rangka memahami perbedaan ini, yang diperlukan adalah studi mikro tentang akibat pembangunan pada lelaki dan kaum perempuan.

ü Feminisme postkolonial
menganggap patriarkilah sumber penindasan itu. Kapitalisme dan patriarki adalah dua kekuatan yang saling mendukung. Seperti dicontohkan oleh Nancy Fraser di Amerika Serikat keluarga inti dikepalai oleh laki-laki dan ekonomi resmi dikepalai oleh negara karena peran warga negara dan pekerja adalah peran maskulin, sedangkan peran sebagai konsumen dan pengasuh anak adalah peran feminin. Agenda perjuagan untuk memeranginya adalah menghapuskan kapitalisme dan sistem patriarki. Dalam konteks Indonesia, analisis ini bermanfaat untuk melihat problem-problem kemiskinan yang menjadi beban perempuan.
Dasar pandangan ini berakar di penolakan universalitas pengalaman perempuan. Pengalaman perempuan yang hidup di negara dunia ketiga (koloni/bekas koloni) berbeda dengan prempuan berlatar belakang dunia pertama. Perempuan dunia ketiga menanggung beban penindasan lebih berat karena selain mengalami pendindasan berbasis gender, mereka juga mengalami penindasan antar bangsa, suku, ras, dan agama. Dimensi kolonialisme menjadi fokus utama feminisme poskolonial yang pada intinya menggugat penjajahan, baik fisik, pengetahuan, nilai-nilai, cara pandang, maupun mentalitas masyarakat. Beverley Lindsay dalam bukunya Comparative Perspectives on Third World Women: The Impact of Race, Sex, and Class menyatakan, “hubungan ketergantungan yang didasarkan atas ras, jenis kelamin, dan kelas sedang dikekalkan oleh institusi-institusi ekonomi, sosial, dan pendidikan.”

ü Feminisme Nordic
Kaum Feminis Nordic dalam menganalisis sebuah negara sangat berbeda dengan pandangan Feminis Marxis maupun Radikal.Nordic yang lebih menganalisis Feminisme bernegara atau politik dari praktek-praktek yeng bersifat mikro. Kaum ini menganggap bahwa kaum perempuan “harus berteman dengan negara” karena kekuatan atau hak politik dan sosial perempuan terjadi melalui negara yang didukung oleh kebijakan sosial negara.

 TOKOH DALAM FEMINISME
1. Foucault
Meskipun ia adalah tokoh yang terkenal dalam feminism, namun Foucault tidak pernah membahas tentang perempuan. Hal yang diadopsi oleh feminism dari Fault adalah bahwa ia menjadikan ilmu pengetahuan “dominasi” yang menjadi miliki kelompok-kelompok tertentu dan kemudian “dipaksakan” untuk diterima oleh kelompok-kelompok lain, menjadi ilmu pengetahuan yang ditaklukan. Dan hal tersebut mendukung bagi perkembangan feminism.
2. Naffine (1997:69)
Kita dipaksa “meng-iya-kan” sesuatu atas adanya kuasa atau power Kuasa bergerak dalam relasi-relasi dan efek kuasa didasarkan bukan oleh orang yang dipaksa meng “iya”kan keinginan orang lain, tapi dirasakan melalui ditentukannya pikiran dan tingkah laku. Dan hal ini mengarah bahwa individu merupakan efek dari kuasa.
3. Derrida (Derridean)
Mempertajam fokus pada bekerjanya bahasa (semiotika) dimana bahasa membatasi cara berpikir kita dan juga menyediakan cara-cara perubahan. Menekankan bahwa kita selalu berada dalam teks (tidak hanya tulisan di kertas, tapi juga termasuk dialog sehari-hari) yang mengatur pikiran-pikiran kita dan merupakan kendaraan untuk megekspresikan pikiran-pikiran kita tersebut. Selain itu juga penekanan terhdap dilakukanya “dekonstruksi” terhadap kata yang merupakan intervensi ke dalam bekerjanya bahasa dimana setelah melakukan dekonstruksi tersebut kita tidak dapat lagi melihat istilah yang sama dengan cara yang sama.

 

Daftar pustaka

· Bhasin,Kamla dan Said Khan, Nighat. Persoalan Pokok Mengenai Feminisme dan Relevansinya, Jakarta: Gramedia, 1999.
·   Fakih, Mansour. Analisis Gender dan Transformasi Sosial, Yogyakarta : INSISTPress, 2008.
·   Jones, PIP. Pengantar Teori-Teori Sosial, Jakarta : Yayasan Obor Indonesia, 2009.

Jumat, 24 Mei 2013

surat tantangan

ketika orang-orang berkata aku terlalu lemah untuk mendorong mobil, akan ku tunjukkan suatu saat nanti bukan hanya mobil bahkan aku bisa mendorong pesawat dengan tanganku
saat mereka berkata aku terlalu manis untuk bisa menjadi seorang satpam, aku bilang aku bahkan akan menjadi presiden karena aku memang tak perlu menjadi satpam
ketika aku dianggap terlalu kecil untuk menghadang angin dan hujan, aku akan tunjukkan kekuatanku tak tertandingi oleh alam,
ketika semua caci maki tawa melecehkan yang mereka berikan padaku semakin banyak dan banyak
aku semakin ingin menunjukkan pada mereka kemampuanku, dan aku sangat percaya Tuhan akan semakin menyayangiku, mereka yang tertawa itu hanya orang-orang yang tidak pernah berjuang dan hanya menikmati apa yang disediakan tanpa usaha sendiri
pada akhirnya... aku akan menang dan tak akan kalah, tunggulah,,karena itu janjiku pada Tuhan.

Kamis, 31 Januari 2013

Ziarah Ingatan


Next story -alasan



Tak ada kisah tentang cinta yang bisa terhindar dari air mata
Namun ku coba mendengar hatiku membuka, siap untuk terluka
…………………………………..
Cinta tak mungkin berhenti secepat aku jatuh hati, jatuhkan hatiku padamu
Sehingga hidupku berarti,,
Cinta tak mudah berganti, tak mudah berganti jadi benci,
walau kini aku harus pergi tuk sembuhkan hati
                                ………………………………..
(tangga- cinta tak mungkin berhenti)


Aku merasa begitu memaknai lagu lagu cinta akhir-akhir ini, entahlah apakah sekarang aku benar-benar sudah jadi pria melankolis? Atau malah pria lebay? Hahaha, alasan,, ya alasan, ingat ceritaku tentang “alasan” aku rasa kali ini aku tidak akan jauh-jauh dari itu, ini gara-gara kekasihku yang sangat heboh dengan lagu ini, hingga tanpa aku sadari aku juga sering menyanyikannya bagaimana tidak bahkan dia memasang lagu ini untuk dering sms dan nada sambungnya, oh Tuhan, yang benar saja gadis ini,,,kenapa aku bisa begitu takut kehilangan dia. Kalian mesti tau aku sekarang masih bersama kekasihku yah walaupun aku masih sering tidak sengaja melukai atau tidak benar-benar memperhatikannya tapi aku selalu berusaha dan benar –benar berusaha agar tidak lagi membuatnya menangis, kalian tau? Alasanku Cuma satu, melihatnya menangis apalagi karena Aku seperti meremukkan jantungku sendiri, yah aku tau bahasaku ini terlalu berlebihan ya sudahlah biarkan saja, ini kan ceritaku, hehehe
Kalian masih ingat ceritaku sebelumnya, tentang beberapa pelajaran kebohongan ,kalau kalian mau tau aku hanya seorang pria yang kadang terlalu cuek dengan sekelilingku setidaknya begitu kata kekasihku, dia selalu rewel begini-begitu soal cinta, oke-oke maafkan aku, aku memang tidak romantic, lalu kenapa? Salah? Aku kan punya cara sendiri untuk membuktikan cintaku padanya, memang pria harus selalu romantis ya? Hai para gadis? Apa aku harus romantis?
Sudah-sudah aku tidak mau terlalu jauh, kali ini aku ingin membagi ceritaku lagi dengan kalian dan kalian wajib membacanya sampai selesai. Soal pria harus romantic tadi,,,Aku rasa tidak, kekasihku yang selalu meributkan soal romantis itu saja selalu diam saat aku melakukan sesuatu yang diluar dugaannya, hehehe aku menyukai gayanya saat aku menggodanya dengan rayuan yg memang jarang sekali aku berikan padanya, dia sering salah tingkah dan membuang muka agar tidak terlihat, aku pura-pura saja tidak melihatnya tapi sebenarnya aku tau dia sangat menyukainya,,aku menikmati caramu tersenyum malu J
Tunggu aku ingin kalian tau seperti apa kekasihku, kekasihku ituu,,, hemmm, hehehe aku bingung bagaimana mendiskripsikannya, di ceritaku sebelumnya aku tak banyak bicara tentang dia, tapi kalian mungkin merasa gadisku seorang gadis yang diam, sabar, baik dan benar-benar kekasih idaman tunggu kalian tidak sepenuhnya benar dia memang akan sangat berubah ketika sedih atau terluka tapi sebenarnya dia tidak sepolos itu, seorang gadis yang cukup tinggi dengan badan yang tidak terlalu besar tapi tidak terlalu kecil juga, dia gadis yang selalu cerewet, penakut, dan selalu punya senyum diwajahnya, tipe orang yang punya banyak teman karena orang-orang tidak bisa cuek padanya, bagaimana mau cuek dia saja terus bicara,,,hahaha bercanda, dia kadang memang terlalu berisik tapi  dia sangat baik, selalu bisa membuatku nyaman dan merasa hanya membutuhkannya di hidupku, aku tidak terlalu suka banyak bicara dan dia selalu rewel minta aku menceritakan hariku kalau kalian mau tau, keinginannya ini cukup menyusahkanku. Ya sudah kalian baca saja dengan baik karena aku juga ingin kembali berziarah ingatan dengan kekasihku.

“aku ingin kamu memberikan sesuatu untukku, untuk bukti cintamu, ayoolah, ku mohon, karena ini kita akan merayakan tahun ke-6, aku akan meminta 6 hal dan kamu juga boleh meminta 6 hal padaku” , Katamu antusias saat kita sedang makan siang.
“hem? Apa?”
“iih, aku mau minta 6 hal untuk bukti cinta dan kamu juga boleh minta 6 hal, oke? Kita akan melakukannya, merayakan 6tahun kita dengan meriah, kumohon”

Aku sebenarnya ingin menolak karena ku rasa ini terlalu,,hem bagaimana ya, aku takut menyakitimu dengan bahasa ku, tapi sayangku kamu bahkan tidak perlu minta 6 hal aku akan selalu melakukan banyak hal untukmu, tapi biar sajalah aku tak’ tega menolaknya.

“iya sayang, terserah kamu saja”
“wooaa, oke,,aku akan minta kamu membuat gambar tentang kita di 6 kertas berbeda warna, bilang – I love u- setiap pagi selama 1 minggu, laluu,,,,,,blablablablaa blaaa”

Aku sudah sedikit mengira-ira tadi kalau kamu pasti akan memintaku melakukan hal-hal yang cukup aneh buatku, kamu tau? Ini kadang benar-benar merepotkanku tapi kali ini memang benar-benar aneh, aku jadi merasa seperti mau ospek saja (-_-)

“lalu kamu minta apa dariku?”
“ha?apa?” , aku tak siap dengan pertanyaanmu karena tadi terlalu sibuk dengan pikiranku sendiri bahkan aku tak benar-benar mendengar 6 keinginanmu tadi, maaf sayang
“aku tak minta apa-apa”
“benarkah? Kau tak minta aku membuktikan cintaku???apa kamu tidak mencintaiku jadi tak mau minta bukti?? L ”,

kau terdengar sedikit cemas saat menanyakannya padaku, aku harus berkata apa?minta apa?

“tidak, aku hanya ingin kamu terus mencintaiku dan setia, itu saja, aku sudah percaya padamu J
J okee sayaangkuu, tapi bukan salahku ya, kan kamu yang tak minta apapun padaku J

Akhirnya kau kembali terdengar antusias dengan ceritamu, aku hanya menghela nafas panjang untuk kesekian kalinya. Kalian tau? Kali ini aku terlihat begitu capek dan bosan dengan sikan kekasihku, ya memang begitulah keadaanya saat itu, aku bosan dengan keinginannya yang kadang berlebihan dan rasanya tidak begitu perlu, maaf sayang. Tapi sebenarnya kadang aku berpikir dia layak minta ini padaku setelah apa yang sudah aku lakukan padanya dan apa yang sudah dia lakukan untukku, aku menyukainya, menyayanginya, mencintai dan membutuhkannya, aku membutuhkan ceritanya, ke-rewelannya,, antusiasnya dan kalian tau? Kecerian dan semangatnya seakan-akan menular padaku membuat hidupku lebih seru dari biasanya, yah aku memang begitu mencintainya.
Setelah banyak permintaannya itu, apa kalian ingat? Aku seorang pelupa, super lupa, maafkan aku sayang beginilah aku, kekasihku selalu terus mengingatkanku tentang janji 6 permintaan itu, tapi apa kalian tau? Aku baru memenuhinya 1 permintaan, tunggu dulu, jangan kalian pikir aku tidak mencintai kekasihku! Jangan salah, aku bukan tidak ingin melakukannya walau itu aneh aku akan melakukannya tapi masalahnya adalah penyakit lupaku ini dan aku masih terlalu repot dengan kuliahku yang terasa makin padat, sekali lagi maafkan aku sayang ini Cuma alasan klasikku yang terus berkata “memang begitu keadaanya”, tentu saja kekasihku kecewa, ya dia kecewa, marah bahkan menangis dengan sikapku tapi dia memang benar-benar gadis yang baik karena pada akhirnya dia mengalah dan mau mengerti keadaanku yang tidak memungkinkan, terimakasih sayang J
Itu baru satu hal kecil saat perayaan 6 tahun kami, kalian tau? Aku merasa akhir-akhir ini dia mencemaskan hal-hal yang tidak perlu, sungguh aku jadi bingung harus bagaimana meyakinkanmu, aku kadang jadi merasa bersalah sendiri karena membuatmu khawatir, aku merasa kau begitu mencintaiku dan itu membuatku takut dan semakin takut menyakitimu lagi…
“Sayang, jarak diantara kita ini bukan halangan untukku, bukan halangan untuk slalu memikirkanmu, tenanglah, aku sudah berjanji tidak akan mengulanginya lagi, aku tak akan pernah menduakan mu apalagi meninggalkanmu, aku mencintaimu sayang” , itu janjiku padamu.
Hari ini aku menjemputmu dirumah, kau sudah siap diteras dengan kaus putih dan tas coklatmu, memandangku masuk dengan senyum mengembang, aku kira sebelumnya kau sudah cukup lama ada didepan rumah terlihat dari tadi kau melihat jam,
“sudah lama?maaf”
“iya, terlalu lama”
“aku mencintaimu” aku segera meraih tangannya dan mendaratkan ciuman manis di kening gadisku dan aku melihat senyumanmu lagi, entahlah aku merasa kau mudah sekali marah padaku tapi kau juga sangat mudah kembali tersenyum
----------------------     -------------------------------    -----------------------------   ------------

Kalian tau? Aku tak tau harus menulis kan apa, apa lagi yang harus aku ceritakan pada kalian? Apa kalian berpikir kalau cintaku begitu sempurna? Ya memang begitu sempurna untukku, Tuhan begitu baik, menciptakan seorang gadis untukku, gadis yang selalu mengingatkanku saat penyakit lupaku kambuh, gadis yang selalu marah saat aku terlalu sibuk, gadis yang sangat berisik ketika aku jadi sangat diam, gadis yang sangat sempurna,, sempurna bagiku, melengkapi semua hal yang membingungkanku dan terkadang menjebakku. Yang perlu kalian tau Tuhan punya caranya sendiri untuk mempertemukan seseorang dengan jodohnya, entah gadisku ini jodohku esok atau bukan, yang perlu ku tau hanya aku mencintainya itu saja, dan aku bersyukur karena aku masih diberi waktu untuk menemukan gadisku.



Waktu, aku tak lagi bingung bagaimana menghabiskanmu,
Aku bahkan terkadang menyesali jalanmu yang begitu cepat
Waktu, aku yang dulu hanya mengeluh akan keterlambatan dan jalanmu
Aku sekarang terlalu sibuk untuk mengeluh dan mengingatmu
Semua berubah,
Kau berjalan begitu cepat,
Waktu, bukan aku plin plan untuk mengartikanmu
Aku hanya mulai menyadari sesuatu
Waktu, banyak hal yang aku dapatkan
Dan aku tak akan pernah mengeluhkanmu,
Aku akan menjaganya,,,
Waktu, berkat kedatangannya
Aku jadi tau bagaimana harus berjalan bersamamu
Waktu… aku menemukan cinta
Waktu, buat aku terus menggenggamnya, buat aku terus bersenandung
Bernyanyi dan
Waktu, aku tidak akan pernah melepaskannya,
Terimakasih.
~kekasih yang jatuh cinta~