Tampilkan postingan dengan label kuantitatif. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kuantitatif. Tampilkan semua postingan

Minggu, 26 Mei 2013

Ruang Lingkup Penelitian Kuantitatif


Ruang Lingkup Penelitian Kuantitatif
a.       Lahirnya pendekatan kuantitatif
Pendekatan kuantitatif lahir dari paradigma positivisme. Sedangkan pokok-pokok pikiran dari paradigma positivisme adalah sebagai berikut (Summary dari Pengantar Penelitian Kuantitatif oleh Yulius Slamet, hal 7-8):
1.      Positivisme percaya bahwa metode dan prosedur ilmu kealaman cocok untuk ilmu-ilmu sosial. (metodologichal naturalism)
2.      Positivisme berkeyakinan bahwa hanya gejala-gejala yang dapat diamati, dalam arti dengan indera, dapat dianggap sahih sebagai bahan pengetahuan. Hal ini berarti bahwa gejala yang tidak dapat diobservasi baik langsung melalui pengalaman maupun penyelidikan atau secara tidak langsung dengan bantuan-bantuan alat-alat tidak mempunyai tempat di dalam ilmu pengetahuan. (phenomenalism atau empirisicm)
3.      Positivisme menyarankan bahwa pengetahuan ilmiah bermuara pada akumulasi pembuktian fakta-fakta. Fakta ini memberikan umpan balik pada teori. Maka teori menyatakan dan mencerminkan penemuan yang terakumulasi dari penelitian empiris.
4.      Teori-teori keilmuan dipandang oleh kaum positivist sebagai sesuatu yang memberikan pelana bagi penelitian empiris dalam arti bahwa hipotesis ditarik dari teori-teori keilmuan itu, yang kemudian diuji dalam kenyataan empiris. Hal ini dengan sendirinya merupakan pernyataan yang tidak langsung bahwa ilmu itu deductive, dalam arti bahwa ilmu itu menarik proposisi-proposisi khusus dari pernyataan-pernyataan umum tentang realitas.
5.      Positivisme memandang pengertian nilai (values) sebagai berikut: pertama, nilai akan melemahkan objektivitas keilmuan, dan dengan demikian merendahkan kesahihan pengetahuan. Kedua, harus ada pembedaan yang tajam dan jelas antara persoalan keilmuan dengan pernyataan (statement) dan hal-hal yang normatif. Hal-hal yang normatif tidak dapat dibuktikan, karenanya tidak termasuk ilmu pengetahuan.

b.      Ciri-Ciri Penelitian Kuantitatif
·         Kausalitas
Penelitian kuantitatif sering dilakukan dengan menetapkan adanya hubungan kausal antara konsep-konsep. Babbie misalnya menyatakan sebagai berikut: salah satu tujuan utama dari ilmuwan, apakah ilmuwan social atau yang lainnya, ialah menjelaskan mengapa hal-hal itu demikian adanya. Secara tipikal, kita dengan menspesifikasi sebab-sebab mengapa hal-hal itu demikian: sesuatu disebabkan oleh sesuatu yang lainnya. 
·         Generalisasi
Peneliti kuantitatif biasanya menaruh perhatian pada ketetapan bahwa hasil penelitiannya pada suatu lokasi tertentu dapat digeneralisasikan pada lokasi yang lebih luas, artinya bahwa kesimpulan yang dia peroleh dari hasil penelitian terhadap orang (sampel) dan wilayah yang terbatas itu dapat ditarik kesimpulan umum yang berlaku bagi suatu populasi yang diwakili oleh sampel itu dan dalam lokasi yang lebih luas. Oleh karena itu persoalan pokok yang dihadapi oleh peneliti kuantitatif ialah persoalan representativitas sampel. Berbagai buku teks menganjurkan bahwa random sampling merupakan gejala yang banyak dipakai oleh para praktisi penelitian untuk memenuhi tujuan ini.
·         Replikasi
Replikasi (penelitian ulang) untuk memantapkan hasil penemuan sering dilakukan dan merupakan cirri ilmu-ilmu kealaman. Menurut Heiseberg: dasar utama untuk meraih keberhasilan ialah kemungkinan mengulangi eksperimen. Kita akhirnya dapat setuju tentang hasil-hasil yang didapatkan karena kita mengetahui bahwa eksperimen dilakukan dalam kondisi yang sama manghasilkan hal yang sama. Beberapa peneliti kuantitatif menyatakan pandangannya bahwa penelitian dapat bebas nilai, karenanya replikasi dapat berlaku sebagai suatu kajian terhadap berbagai ekses.
·         Individualisme
Penelitian cenderung memperlakukan individu sebagai pusat dari penelitian empiris. Dalam penulisan tentang apa yang oleh Bryant disebut sebagai “instrumental positivism” (suatu istilah yang merupakan sinonim dari penelitian kuantitatif tetapi lebih berkaitan dengan tradisi survei), telah tercatat bahwa ada kecenderungan individu menjadi pusat perhatian para peneliti. Kecenderungan ini ditarik dari kenyataan bahwa instrumen survey diberikan kepada individu-individu yang dipandang sebagai obyek yang diskrit di dalam penyelidikan. Jawaban-jawaban (response) dari setiap individu itu dikumpulkan untuk membentuk ukuran-ukuran keseluruhan dari sampel. Satu manifestasi dari kecenderungan individualisme ialah pandangan bahwa aspek-aspek unit sosial dapat dibangun dari agregasi jawaban-jawaban penelitian dari para individu.
(Ringkasan dari Pengantar Penelitian Kuantitatif oleh Yulius Slamet, hal 19-24)

c.       Struktur Logika dari Proses Penelitian Kuantitatif
Tahap Utama                                                                                 Proses Perantara
              Teori                                                                                                 
                                                                                                            Deduksi          
Hipotesis
                                                                                                           Opersional Konsep
                                                                                                            
Pengamatan/ Pengupulan Data
                                                                                                            Pengolahan Data
                                                                                                            
Analisis Data
                                                                                                            Penafsiran

Penemuan Hasil
                                                                                                              Induksi
 

(Diambil dari Pengantar Penelitian Kuantitatif, hal 14)
d.      Perbedaan Pendekatan Kuantitatif dan Kualitatif

PENDEKATAN KUANTITATIF
PENDEKATAN KUALITATIF
Berpijak pada konsep positivistik
Berpijak pada konsep naturalistik
Kenyataan berdimensi tunggal, terbatas, fixed
Kenyataan berdimensi jamak, kesatuan utuh, beruah, terbuka
Peneliti dengan objek terlepas; penelitian dari luar dengan alat pengukuran standar dan objektif
Peneliti dengan objek berinteraksi; peneliti di luar dan di dalam, peneliti sebagai instrumen, menggunakan judgment / subjektivitas
Setting penelitian buatan, lepas dari tempat dan waktu
Setting penelitian alamiah, terkait tempat dan waktu
Analisis statistik
Analisis subjektif, intuitif, rational
Hasil penelitian berupa inferensi, generalisasi, prediksi
Hasil penelitian berupa deskripsi, interpretasi tentatif situasional
(diambil dari kuliah Metode Penelitian Kuantitatif tgl 23 Feb)

e.       Asumsi Paradigma Kuantitatif
·         Asumsi Ontologis, bahwa realita adalah obyektif dan tunggal, terpisah dari peneliti
·         Asumsi Epistemologis, bahwa peneliti bebas dari yang diteliti
·         Asumsi Aksiologis, bahwa penelitian harus bebas nilai dan tidak bias
·         Asumsi Retoris, bahwa penelitian formal, berdasarkan pada seperangkat definisi, bentuk impersonal
·         Asumsi Metodologis, bahwa proses deduktif, ada sebab dan akibat, rancangan statis, kategori-kategori diisolasi sebelum penelitian, naskah bebas, generalisasi mengarah ke prediksi, penjelasan dan pemahaman akurat dan dapat dipercaya melalui kesahihan dan keandalan.
(Diringkas dari Metode Penelitian Sosial oleh Ulber Silallahi)
oleh : Ita Puspitasari 

Rabu, 02 Mei 2012

Metode Penelitian Kuantitatif

1.    Chi-square
Rumusan masalah :
•    Apakah ada peerbedaan antara tingkatan gaji pegawai dengan merk laptop yang dimilikinya ?
Hipotesis :
•    Ha : ada hubungan antara tingkatan gaji pegawai dengan merk laptop yang dimilikinya
•    Ho : tidak ada hubungan antara tingkatan gaji pegawai dengan merk laptop yang dimilikinya
Hasil :
df         : 6
nilai hitung    : 13,590
nilai tabel    : 12,592 pada taraf signifikan 5 %
r  hitung > r  tabel , maka Ha diterima dan Ho ditolak
maka, ada prbedaan yang signifikan antara tingkat gaji pegawai dengan merk laptop yang dimilikinya.



2.    T-test
a)    Independen
Rumusan masalah :
 adakah hubungan antara siswa SMP yang mempunyai hp dan yang tidak mempunyai hp terhadap tingkat prestasi ?
Hipotesis :
•    Ha : ada hubungan antara siswa SMP yang mempunyai hp dan yang tidak mempunyai hp terhadap tingkat prestasi
•    Ho : tidak ada hubungan antara siswa SMP yang mempunyai hp dan yang tidak mempunyai hp terhadap tingkat prestasi
Hasil :
df         : (n+n)-2 = 28
t hitung    : 2,536
t tabel        : 2,048 dengan taraf 0,05
 t hitung >  t tabel , Ho ditolak dan Ha diterima
maka, ada hubungan antara siswa SMP yang mempunyai hp dan yang tidak mempunyai hp terhadap tingkat prestasi.




b)    Berpasangan
Rumusan masalah :
Apakah ada perbedaan tingkat religius mahasiswa sebelum  dan sesudah mendapatkan pelajaran agama ?
Hipotesis :
•    Ha : ada perbedaan tingkat religius mahasiswa sebelum  dan sesudah mendapatkan pelajaran agama
•    Ho : tidak ada perbedaan tingkat religius mahasiswa sebelum  dan sesudah mendapatkan pelajaran agama
Hasil :
Df        : n-1 = 29
T hitung    : 1,978
T tabel        : 2,045
t hitung <  t tabel , Ha ditolak dan Ho diterima
maka, tidak ada perbedaan tingkat religius mahasiswa sebelum  dan sesudah mendapatkan pelajaran agama.



DISUSUN OLEH :
ITA PUSPITASARI
D0109049

ILMU ADMINISTRASI NEGARA
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2011